KNPB Mengutuk Tindakan Brutal Aparat TNI/Polri di Paniai

Posted by Papuan Voices On Kamis, Desember 15, 2011 0 komentar
Lambang KNPB (Foto: Ist)
PAPUAN, Jayapura --- Harkat dan martabat orang Papua Barat dimata negara Indonesia selalu disamakan dengan binatang buruan yang harus dikejar, dibunuh dan dibantai.

Stigma TPN/OPM, separatis, makar adalah “surat jalan” yang dipakai negara untuk terus membunuh dan membantai rakyat Papua Barat. KNPB mengutuk tindakan brutal yang dilakukan aparat di Kabupaten Paniai.

Hal ini disampaikan Mako Tabuni, Ketua I Komite Nasional Papua Barat (KNPB) saat menggelar jumpa pers terkait situasi di Kabupaten Paniai, Kamis (15/12) siang ini, di Prima Garden, Abepura, Jayapura, Papua.

Kata Mako, dirinya mendapat laporan bahwa situasi Paniai saat ini sangat mencekam. Masyarakat sipil tidak berani keluar dari rumah karena aparat TNI/Polri dengan senjata lengkap terus lalu lalang di pusat-pusat kota.

“Situasi Paniai saat ini bisa dikategorikan darurat militer (perang), perlu ada advokasi dan perhatian dari komunitas internasional.”

Mako menjelaskan, cara-cara operasi militer memang telah lama dilakukan oleh TNI/Polri sejak Papua akan dipaksa berintegrasi ke dalam negara Indonesia.

“Kami dibantai dan dibunuh sejak tahun 1963, saat Indonesia akan masuk di tanah Papua Barat. Ini tindakan sangat biadab dan tak manusiawi,” jelas Mako.

Ketika ditanya tentang jumlah orang Papua yang meninggal sejak tahun Indonesia masuk di Papua, Mako menyebut sebanyak 1 juta orang.

“Itu sumber resmi dari Amnesty internasional, itupun yang bisa terdata, belum yang tak pernah terdata,” jawabnya.

Dalam kesempatan tersebut, Mako mewakili KNPB meminta agar rakyat Papua Barat terus berjuang agar dapat capai kemerdekaan Papua secara cepat, dan mempertahankan Papua dari negara kolonial.

“Kita tidak sedang berjuang sendiri, masyarakat internasional sedang memperhatikan. Terutama negara-negara asing, terutama terkait tindakan brutal yang dilakukan aparat TNI/Polri di Paniai,” tutup Mako.

Sementara itu ketua KNBP Wilayah Paniai, Habel Nawipa dalam pesan singkatanya mengatakan bahwa warga sipil di Paniai sudah mengungsi, dan takut untuk melakukan aktivitas. Ini menimbulkan trauma berkepanjangan.

“Mereka ingin merayakan natal, tapi karena tindakan brutal aparat TNI/Polri, maka semuanya terganggu, ini sangat menyakitkan sekali,” tulisnya dalam pesan singkat.

Dikabarkan juga, TNI/Polri telah menguasai markas TPN/OPM di Eduda, dan telah mengibarkan bendera merah putih di lapangan yang biasanya dipakai sebagai tempat upacara.

Banyak dari anggota TPN/OPM di kabarkan telah melarikan diri sejak penyerangan tersebut. Pendropingan pasukan TNI/Polri masih terus dilakukan di hampir semua wilayah Paniai.

OKTOVIANUS POGAU

0 komentar:

Posting Komentar