Tampilkan postingan dengan label FAK-FAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FAK-FAK. Tampilkan semua postingan
| Aksi hari Trikora di Fak-Fak (Foto: ST) |
Sejak pukul 08.00 WIT ribuan massa berkumpul di Central Mehak, dan melakukan long march sambil melakukan orasi-orasi politik hingga sampai di Terminal Plaza Tumburuni, pusat aksi akan dilangsungkan.
Dalam aksinya, massa memegang berbagai foto-foto pelanggaran hak asasi manusia (HAM), juga memegang foto enam orang wakil rakyat Papua yang dianggap layak untuk berunding dengan pemerintah Indonesia.
| Aksi hari Trikora di Fak-Fak (Foto: ST) |
Penanggung Jawab aksi, Apner Hegemur dalam press release yang dikirim kepada Papuan Voices mengatakan tujuan aksi tersebut untuk menolak pendudukan Indonesia ditanah Papua Barat melalui Trikora, dan sekaligus untuk mengumumkan perwakilan Papua yang akan duduk dalam meja perundingan.
“Indonesia secara illegal telah menduduki Papua Barat melalui Trikora, padahal kami telah merdeka dan berdaulat secara penuh pada tanggal 1 Desember 1961,” tulisnya.
Ditambahkan oleh Roi Muri, Ketua Panitia Aksi Nasional Hari Trikora, Indonesia sebagai salah satu negara demokrasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai HAM harus membuka diri untuk berunding secara adil, jujur dan bermartabat dengan wakil-wakil rakyat Papua Barat.
“Indonesia jangan mau berdialog dengan elit-elit Papua di pemerintah yang tidak ada legimitasi dari rakyat Papua Barat,” tulisnya dalam keterangan tersebut.
Dalam kesempatan itu, panitia mengumumkan secara resmi enam orang juru runding yang dianggap mampu dan memenuhi criteria untuk berunding dengan pemerintah Indonesia.
Keenam orang tersebut adalah, Dr. Jhon Otto Ondawame, Octovianus Motte, Benny Wenda, Leonie Tanggahma, Jacob Rumbiak dan Rex Rumakiek.
“Keenam orang itu dianggap berkompeten, memiliki integritas yang baik, dan sudah dianggap layak untuk duduk dalam meja perundingan,” ungkap Muri.
| Aksi hari Trikora di Fak-Fak (Foto: ST) |
Salah satu massa aksi, Siwa Tigtiigweria kepada Papuan Voices mengatakan aksi berlangsung dengan aman dan tertib, dan dijaga secara ketat oleh aparat kepolisian.
Dikabarkan juga, massa aksi membubarkan diri dengan tenang sekitar pukul 14.00 WIT.
OKTOVIANUS POGAU
![]() |
| Masyarakat Fak-Fak demo menuntut Papua Merdeka (Foto: Ist) |
Humas aksi, Siwa Tigtigweria dalam siaran persnya menjelaskan bahwa aksi ini akan diikuti oleh seluruh warga masyarakat Papua yang berada di Kabupaten Fak-Fak dan sekitarnya.
“Surat pemberitahuan aksi untuk kepolisian sudah kami masukan sejak tanggal 14 lalu, karena itu aksi akan tetap dilakukan pada hari Senin,” jelasnya.
Kata Siwa, aksi ini sebagai bentuk penolakan bangsa Papua Barat di Fak-Fak terhadap segala bentuk-bentuk penjajahan yang dilakukan pemerintah Indonsia sejak menguasai tanah Papua.
“Papua bergabung dengan Indonesia bukan maunya kami, tapi dilakukan secara paksa oleh Indonesia melalui Trikora yang dimaklumatkan di Jogjakarta dulu oleh Presiden Sukarno,” tegas Siwa.
Selain itu, lanjut Sirwa, KMPFUK juga aksi untuk memberikan dukungan sepenuhnya kepada juru runding bangsa Papua yang telah ditetapkan saat berlangsung Konfrensi Perdamaiaan Papua (KPP) pada bulan 5-7 Juli lalu di Auditorium Uncen, Jayapura, Papua.
“Kami akan mengumumkan nama-nama ke-5 orang yang telah ditentukan dan dipilih dalam KPP secara terbuka supaya masyarakat Fak-Fak bisa mengetahuinya secara jelas,” jelas Siwa.
Siwa menambahkan, masyarakat Papua saat ini mengharapkan penyelesaiaan masalah Papua secara adil, jujur, dan bermartabat melalui sebuah dialog internasional dengan melibatkan juru runding yang telah ditentukann.
"Kami himbau seluruh masyarakat Fak-Fak untuk datang dan terlibat dalam aksi damai ini," akhiri Siwa.
OKTOVIANUS POGAU

